Kamis, 03 Februari 2011

GUE SUKA LO KOPLAK

 
            Sebagai penulis kacangan yang baru ngeluarin satu buku kurang best seller, aku mencoba peruntungan baru sebagai pencetus ide video klip untuk sebuah boyband yang lagi naik daun (ulet kali ah). Jadi emang lagi beruntung atau beruntung lagi emang, salah seorang teman yang aku kenal di penerbitan mempunyai keluarga yang merupakan sutradara. Si bapak Sutradara ini lagi nyari konsep dan ide cerita untuk pembuatan video klip baru SMASH. UWOOO!!! Aku langsung jerit-jerit enggak jelas kayak orang gila di terminal-terminal.
“ SMASH?! Seven Man As Seven Heroes? Yang anggotanya Rangga Dewamoela Soekarta, Bisma Karisma, Morgan Oey, Rafael Landry, M ilham Fauzie, M Reza Anugerah, Dicky M Prasetya. Yang terbentuk tanggal 10 April 2010? You know me so well? Cenat-cenut? Lidah keluh?” Aku histeris sendiri.
Lisa mangap selebar pintu mobil, kemudian mengangguk sembari tanganya meraih botol kaca persiapan buat nimpuk kepalaku, kali-kali aja temennya ini mendadak terkena kegilaan akut lantaran ditawari bikin Video klip bareng SMASH. Aku memegang kedua pundaknya, dan menggoyang badannya sambil menjerit.
“MAU!!!” Dengan semangat ’45 yang lebih mirip orang bentak ketimbang seneng.
Sekarang aku lagi duduk di meja putih berbentuk oval bersama orang-orang yang terlibat dalam proses pembuatan Video Klip. Cuma dari personil sm*sh ada satu orang yang belum dateng.
TOK-TOK
Pintu diketok. Aku mencondongkan badanku ke depan untuk memastikan siapa yang datang. Kursiku yang beroda ini makin lama makin menjauhi meja dan berat tubuhku berpindah ke depan. Tepat saat Rangga masuk, aku
BUKK
Aku tengkurep mengenaskan di lantai. Saat aku mendongakkan kepala, aku bisa liat lubang hidung Rangga dari bawah sini. Lubang hidungnya pun so cute (apa coba). Aku menunduk malu. Merem melek mata ini. Aku gak berani berdiri, tapi harus berdiri. Kalo bisa bertelepati kayak pendekar zaman dulu, aku pasti sudah baca ajian kanuragan untuk menghilang secepatnya dari sini, dan kembali ke beberapa saat sebelum terjadinya proses pemankzulan rasa percaya diri ini.
Aku berdiri, dan terus menunduk. Beberapa personil Sm*sH berdesis pelan menahan tawa. Pak Sutradara dan krunya malah ngakak berjamaah. Aku Cuma manyun seribu gaya.  Aku menegakkan kursiku dan duduk kembali di atasnya. Rangga berjalan menuju kursi kosong di depanku. Aku mengeluarkan buku dari dalam tas coklat, dan menutup wajah inocentku dengan buku itu. semua orang terdiam.
“ Loh,kok pada diem sih? Sehebat itu kah kekuatan bukuku ini. Tapi ini bukan Yassin atau buku fisika. Kok semuanya diem?” Aku berbisik pelan.
Cowok berbehel yang duduk di sampingku menunduk dan ikut berbisik, “Kau baca buku begituan?” Tanyanya.
“hah!” Aku langsung menoleh dan olala muka bisma Cuma berjarak lima centi dari mukaku. Aku langsung buang muka kearah berlawanan. Dan menggigit bibir bagian bawahku. Lalu dengan penuh percaya diri aku melihat buku di tanganku.
Aku Cuma mangap dan jadi patung yang pas itungan ganjil baru gerak. Kenapa majalah pria dewasa ada di dalam tasku. Aku langsung melihat tasku, kok warnanya coklat tua. Tasku kan warna coklat muda? Jangan-jangan, aku salah bawa tas! OMG, berarti aku bawa tas Kak Kino,kakaku. Adududu, bener-bener deh malu-maluin banget. Masa’ cewek baca yang begituan. Mereka bisa ngira aku ini cewek pecinta sesamajenis. Oh NO! Setelah semuanya berkumpul, Pak Sutradara mulai membicarakan soal syuting hari ini. Karena jadwal anak-anak Sm*sh yang padat kayak beton, syuting diperpanjang menjadi tiga hari di tiga lokasi berbeda. Lokasi pertama di sebuah sekolah, lokasi kedua di halte bis, lokasi ketiga di studio.
Selama pak sutradara cuap-cuap aku Cuma diem dan terus nahan malu. Aku gak berani liat siapa pun terutama Kak Rangga. Dia dan member sm*sh yang lain pasti langsung illfeel sama aku. Hiks,hiks. Aku terus mewek. Rasanya kalo gak ada orang di sini, airmataku udah langsung mau crott keluar dari persembunyiannya.
“Kau setujukan Kinia?” Tiba-tiba pak sutradara langsung nanya aja ke aku. Aku yang daritadi gak nyimak, Cuma bilang iya-iya dan ngangguk gak beraturan. Aku melirik Rangga dan terus memperhatikannya. Matanya, pipinya, poninya, gayanya, suaranya, senyumanya, semuanya aku suka.
“Baiklah kalo begitu, syuting hari ini kita mulai”
Pak sutradara berdiri dan keluar ruangan, semua orang mengikuti. Aku menyelempangkan tas coklat salah bawa ini, lalu berdiri dan berjalan lesu menuju pintu. Waktu mau keluar, dicky menghampiriku dan menyodorkan tanganya. Aku melihat wajahnya yang sedang tersenyum ramah.
            “ Hi, aku dicky”
            Aku menyambut tanganya, “Kinia”
            “Kinia Fransiska? Pengarang novel Dian Vs Dian kan?” Tanyanya. Aku ngangguk. Wah, dia tau juga sama novel kacangan aku yang gak best seller. Dicky ramah banget. Dia cerita tentang novel aku, dan tentang tokoh-tokoh didalamnya. Kami lalu berjalan beriringan keluar kantor dan menuju tempat parkir.
            “Ikut mobil kami yok kak Nia?” Ajak Dicky.
            “Hah!” Aku kaget dan pura-pura nolak, padahal dalam hati pengen banget. Kalo bisa di dalam mobil aku dipangku sama kak Rangga, dikipasin Kak Morgan dan dipijitin Ilham,sama Reza, dinyanyiin kak Rafael dan cerita sama dicky. Hahaha. Dan akhirnya setelah penolakan setengah hati, aku yang gak bisa nolak, naik dan semobil dengan anak-anak sm*sh. Aku duduk di kursi tengah bareng Dicky, Reza, sama ilham. Di belakangku, duduk Kak Rangga,Morgan dan Rafael. Kak Bisma berperan sebagai supir, dan manager mereka duduk disebelahnya.
            Aku duduk tegang dan gak berani buat nyenderin badan di kursi. Ke dua tanganku memegang pahaku. Sebenernya duduk dengan posisi begini bener-bener menguras tenaga dan energy. Cuapek deh! Aku melirik ke Reza yang lagi ngerjain PR kayaknya. Aku perhatiin Reza yang keliatan bingung. Reflex aku nunjuk sebuah angka dan mulai cuap-cuap tentang rumus. Reza ngangguk-ngangguk waktu dengerin penjelasanku.
            “Wah makasih ni udah diajarin” Reza tersenyum sambil pamer gigi kelincinya yang kinclong.
            “Namanya Kak Kinia. Dia ini novelis.” Ucap Dicky. Yah, jadilah saat itu aku berkenalan dengan ketujuh personilnya termasuk Kak Rangga. Aduh, aku gak mau cuci tangan ah! Turun dari mobil, para kru sudah sibuk mempersiapkan semua peralatan. Para member sm*sh mempersiapkan diri. Aku mundur teratur dan mendekati Pak Sutradara melakukan semua yang dia pinta, lalu berdiskusi tentang setiap scene hari ini. Saat sedang asing ngobrol, pandangan aku beralih ke tiga orang cewek cantik yang duduk di deket member sm*sh. Mereka itu model video klipnya, aku yang menawarkan mereka kepada Pak Sutradara. Beberapa saat sebelum syuting dimulai, member sm*sh berlatih gerakan mereka untuk VC ini.
            “Sudah sana kau siap-siap!” Perintah Pak sutradara.
            “Aku sudah sangat siap 200% Pak” Ucapku penuh semangat.
            “Siap apanya! Kau mau jadi model Video Klip dengan dandanan begini” Pak Sutradara geleng-geleng.
            “Apa! Jadi model video klip” Aku berteriak. Lalu tertawa dan memukul pundak Pak sutradara, “Bapak ada-ada aja deh” Aku terkekeh.
            “Lah, bukannya kamu tadi udah setuju”
            “kapan?”
           
“Pas di kantor. Aku kan sudah bilang, modelnya mendadak sakit dan gak bisa hadir hari ini. Jadi daripada bingung nyari model baru mending saya pilih kamu. Tenang, bayaran sebagai ide cerita dan model terpisah. Jadi gajimu bakal gede’” Pak Sutradara berlalu meninggalkan aku dan menghampiri seorang tukang make up. Gak berapa lama mukaku udah di vermak, pake baju dan flat shoes lucu. aku suka aku yang sekarang! Hehehe
            Fuh
            Aku menghela napas panjang. Syuting pun dimulai dengan aksi Ilham dan Dicky di depan mading bersama 2 cewek cheersleader,sambil nyanyi lagu gadisku. Terdengar teriakan cut,exaction,bagus, mundur, masuk. setelah aksi Ilham dan Dicky selesai, kami pindah ke perpustakaan sekolah yang gede banget. Aku terbelalak waktu ngeliat buku yang super duper banyak berjejer rapi di lemari perpus.
            “Rangga, Milla, Bisma, Kinia siap-siap” Perintah Pak sutradara. Aku jadi mendadak pengen pup nih! Aduh. Pak Sutradara mendekati ketiga cowok dan cewek ganteng itu, dan menjelaskan apa yang harus mereka lakukan. Lalu dia menoleh dan melihat aku yang masih berdiri tegang kayak botol kecap.
            “Kinia,cepet sini!” Panggilnya. Aku lalu berjalan dengan kaki kanan dan tangan kanan yang seirama persis kayak robot. Dengan wajah tegang aku mendekati mereka.
            “Mungkin Kinia yang lebih ahli menjelaskan scene kali ini” Pak Sutradara menepuk pundakku dan mendorongku maju. Aku garuk-garuk pipi tembemku. Aku pandangi tiga wajah yang menanti penjelasanku. Milla, model remaja yang lagi naik daun ini terlihat lebih cantik dari yang di foto. Aku menarik napas, lalu mulai menjelaskan.
            “Jadi nanti Rangga dan Milla duduk di sini” Aku menunjuk kursi di depanku.”Nanti Milla jelasin soal di buku, nah Rangga bukannya ngeliatin buku malah ngeliatin Milla sambil nyanyi, lagunya kan nanti diputerin yah! Terus di sebelah Milla nanti aku duduk, pas bagian Bisma nyanyi, dia dateng dari seberang meja sambil ciat wacaw memutar badannya di meja.” Aku bergaya pencak silat. Mereka melihatku, “Yah maksudnya bukan pake jurus pencak silat tapi ngelinding yang atraktif.”
            “Kayak gini” Bisma berjalan ke seberang meja dan mulai mempertontonkan aksinya, dia mengelinding dan berhenti tepat di depanku. Aku bertepuk tangan dan menepuk kepalanya, “Anak pintar” ucapku sambil tersenyum. “Terus abis kamu ngegelinding kayak bola salju, kamu duduk di sampingku. Lirik yang kamu nyanyiinkan ada kata seharum rambutmu kan, yah kamu apa gitu mesra-mesraan sama aku sambil ngelus rambutku. Gimana? Ngerti semuanya” mereka saling memandang dan mengangguk. Aku lalu berbalik dan berkata pada sutradara, “Mari kita mulai”
            Selesai scene ini, syuting dilanjutkan dengan aksi Reza yang ngerap buat ngegodain anak basket cewek. Dan tepat jam 1 siang, syuting selesai. kami makan siang bareng di lokasi syuting. Saat lagi asyik makan, Bisma mendekatiku dan ngajakin kami ngobrol. Seru pisan euy! Kami ngakak berkepanjangan dan cerita banyak hal.
            “Sampai jumpa di syuting selanjutnya” Bisma menyapaku sebelum dia pergi dengan mobilnya bersama personil sm*sh yang lain. Aku menoleh ke belakang dan mendapati lokasi sudah sepi. Gak ada satu orang pun di sini! TOLONG!!!!
            “HEI TUNGGU!” Seseorang berlari mengejar mobil sm*sh. Dia lalu berhenti di depanku dan kelelahan. Dia ngepor mengenaskan di aspal. Aku mendekatinya dan melihat wajahnya yang kelelahan.
            “Rangga” Gumamku, “Kau ditinggal juga yah?” Tanyaku.
            “Kamu” dia menunjukku, aku Cuma nyengir kuda. Kami lalu berjalan untuk mencari taxi atau angkot atau apalah yang bisa bawa kami pulang. Rangga sendiri abis ini masih ada jadwal manggung, jadi dia harus buru-buru. Setelah jalan cukup jauh, kami akhirnya menemukan taxi dan langsung caw ke rumahku baru ke tempat Rangga manggung. Tapi pas sudah di dalam taxi, mataku terasa berat dan akhirnya aku tidur.
Aku terbangun saat mendengar alunan lagu I Heart You dari atas panggung. Saat membuka mata, aku udah berpindah dari taxi ke sebuah mobil. Mobil anak-anak sm*sh nih! Kok bisa!
            PLAK
            Aku mukul jidatku, “Koplak bener sih,aku tadi ketiduran sebelum ngomong alamatku dimana” aku melihat pakaianku dan meraba-rabanya. Alhamdulillah masih lengkap. Aku membuka pintu mobil dengan mata yang masih merem melek, berjalan sempoyongan menuju panggung. Samar-samar aku liat sm*sh berpose di akhir lagu mereka. Semua ABG cewek jerit-jerit histeris. Aku kembali lagi ke mobil untuk mengambil tasku lalu pergi meninggalkan mereka. Maklum kayaknya mereka sibuk banget ngurusin fansnya. Jadi aku gak sempet mohon pamit dan ngucapin terima kasih sama mereka yang udah mau nebengin aku.
            Sebelum hari syuting, aku bela-belain buatin anak-anak sm*sh kue coklat dengan sereal sebagai ucapan terima kasih sudah nebengin aku. Besoknya, dengan penuh rasa bangga aku kasihlah itu kue ke anak-anak sm*sh. Kak Rafael yang paling doyan makan kueku. Dia malah pengen nyulik aku ke rumahnya buat bikini dia berton-ton kue coklat. Yah kakak, bisa kapalan tanganku!
            “Kinia” Aku menoleh ke sumber suara yang memanggilku dan mendapati Rangga. Aku hampiri dia. Dan tersenyum sok dimanis-manisin.” NIh” dia memberiku sebotol obat yang ada tulisan cinanya.
            “Ini apa?” Tanyaku.
            “Itu vitamin buat kamu minum hari ini biar gak lemes lagi abis syuting. Muka kamu kemarin keliatan pucet jadi aku gak tega bangunin kamu dan ngendong kamu ke mobil anak-anak sm*sh. Vitamin ini rekomendasinya Morgan.” Ihi,aku digendong Rangga.
“Ah!” Aku mengambil vitamin itu,” Bilang sama Morgan Gong Xi Fa Chai” Ucapku dengan wajah polos. Rangga menanggapinya dengan tawa. Aku makin deg-deg serr pas liat tawa manis Rangga. Udah deh Rangga jangan ketawa terus, bisa-bisa jantungku melompat keluar. Setelah hari itu aku semakin deket sama member sm*sh. Mereka sih paling suka sama masakan aku terutama kak Rafael yang kayaknya kepelet sama kue-kue coklat kreasi penulis kurang best seller ini. Tapi dari semua member aku paling nyambung sama Bisma. Kita sering ngobrol, Bisma banyak cerita soal cewek incerannya yang lumayan cuek dan sering minta saran sama aku yang juga rada cuek.
Sedangkan aku sedikit-sedikit mancing Bisma buat ngasih tau semua hal tentang Rangga. Walopun syuting sudah selesai, aku masih suka tu diajakin anak sm*sh ke basecampnya Cuma buat sekedar masak atau dengerin curhatnya Bisma, ngajarin Reza, dan ngeliatin Rangga. Hehehe. Tapi, udah hampir 1 minggu aku gak jumpa sama mereka karena sm*sh sibuk manggung buat promo album mereka ke luar kota. Jadi kangen sama senyumnya kak Rangga. Aku menghela napas panjang saat membuka toko music. Aku mulai berjalan lesu memperhatikan CD yang ada di lemari. Aku terdiam memandangi sebuah CD boy band dan memandangi wajah cowok berponi di depannya yang tersenyum manis.
“Aku Kangen banget sama kamu Rangga” Gumamku pelan. Lagu better than love dari sherina mengalun ke seantero toko. Aku tersentak dan menghanyati setiap bait lagunya. Dari dulu sampe sekarang lagu ini bermakna dalam buat aku. Bener-bener menusuk liriknya.
Seemed imposible, seemed absurd
I didn’t even know you before
Kept my distance closing in
I don’t mind caressing your skin

What did you say, what did you do
Somehow I feel I’m enchanted by you
Flying high on the mountain high
Suddenly you look as bright as the sky
Itu sebagian dari lirik lagunya (mau info lebih lanjut silahkan Tanya mbah google). Ini lagu aku persembahin buat Rangga deh. Aku keluar dari toko music tanpa membeli satu kaset atau Cd apa pun. Saat aku keluar aku yang tadinya lesu tersenyum sangat lebar dengan mata yang berkaca-kaca. Aku gak percaya dengan apa yang aku liat, Rangga dan personil sm*sh yang lain keluar dari sebuah mobil dan menghampiriku. Kakiku terasa kaku, aku pengen meluk Rangga. Ya Tuhan rasanya seminggu lama banget, waktu terasa lama berdetik kayak waktu belajar Fisika di SMA. Waktu mau berjalan dan menghampiri Rangga, Reza dan dicky udah keburu meluk aku.
“Aku Kangen banget sama Kak Nia” Ucap Dicky
“Sama aku juga” Ucapku sambil manyun.
Mereka lalu ngajakin aku ke basecamp dan langsung aja nyuruh aku masak ini dan itu.
“Sebenernya kalian rindu sama aku atau masakanku sih” Aku marah-marah sama mereka.
“Hiy,kak Nia kalo marah makin manis deh. Pantes kak Ra…huft” Rangga langsung menutup mulut Reza yang Nampak meronta. Aku memperhatikan Rangga yang Nampak sedikit malu. Apa mungkin nih cowok..ah gak mungkin. Impossible kelas kakap dia suka sama aku. Eits, kok aku mendadak terkena hasrat ingin vivis nih!
Jadi aku berdiri di depan kamar mandi yang lagi dipake Bisma. Rangga datang menghampiri. Dia menggenggam tanganya. Mukanya pucat dan berkeringat. Dia gak berani menatapku.
“Anu KInia” Ucapnya buka suara.
“Apa?” Aku memandanginya, “Oh,,silahkan kau duluan. Aku bisa nunggu nanti.”
“APA!” Rangga tersontak
“Iya, kau mau ke Wc kan. Keliatanya kau terkena sembelit yah? Pasti sangat menyakitkan. Atau wasir? Wah jangan-jangan kau diare karena kebanyakan show” Gumamku sok tau. Rangga Cuma mangap lalu tertawa. Bisma keluar dari kamar mandi, lalu memandangi kami.
“Kin, ntar temenin aku yah! Ada yang mau aku omongin sama kamu” Ajak Bisma dengan mata yang memelas yang lebih mirip orang kebelet pipis daripada memelas. Aku ngangguk polos. Rangga menghela napas panjang dan berlalu meninggalkan kami duduk kembali di atas meja makan. Aku pandangi dia dari depan WC(gak enak banget ngobrol depan WC). Malamnya, Bisma ngajakin aku ke sebuah tempat yang rencananya mau dia pake buat nembak cewek inceranya. Dia meminjam tubuhku ini sebagai inang pengganti ceweknya.
“Milla, aku sebenernya sudah lama suka sama kamu. Apa kamu juga punya rasa yang sama ke aku?” Bisma menghayati setiap kata. Aku tersipu malu kayak mpok nori yang ketemu cowok ganteng berbadan ade rai. Lalu aku mengangguk.
“Kira-kira Milla nerima cinta aku enggak yah?”
“Dari PDKT selama ini, respon Milla baikkan. Jadi Lanjutkan Bisma!’ Aku menepuk pundaknya, dan mengacungkan jempol. “Kapan Milla dateng?”
“Seharusnya lima menit lagi” Bisma melihat jam tanganya. Lalu berdiri dan mulai mondar mandir kayak laki yang lagi nungguin istrinya brojolan.
“Udah tenang. Kamu ganteng kok Bis. Milla pasti klepek-klepek lihat kamu. Lidah keluh dan tubuhnya lunglai, mirip gejala epilepsy.”
“Apaan sih” Bisma senyum. Milla datang, dan aku menghindar menjauhi dua calon pasangan ini. Aku mengamati mereka dari balik pilar restoran. Milla cantik banget malam ini. Aku membalikkan badan dan bersandar pada tembok. Di depanku ada kaca yang memantulkan penampilanku.
“Kinia,Kinia mana mau Rangga sama cewek cuek yang enggak ngerti fashion kayak kamu. Milla mungkin cuek sama cowok, tapi dia bener-bener ahli dalam memoles penampilannya.” Aku keluar restoran. aku langsung mau naik bis. Haltenya ada di seberang restoran, jadi harus nyeberang jalan raya yang padetnya ruarrr binasa. Untungnya ada Pak Polisi yang bantuin para penyebrang menyebrang jalan yang ramai. Waktu ada di tengah perlintasan, seseorang nyolek pundakku.
Aku menoleh,
“Non,dipanggil tu” Seorang bapak ngacungin bibirnya ke seorang cowok di seberang jalan.
“Rangga!” aku kaget, “Ada Apa?” Jeritku di tengah ramai lalu lintas.
“Aku mau TETTTT” Sebuah fuso lewat sambil membunyikan klakson.
“APA”
“Besok aku……racun tikus,racun tikus” seorang penjual racun tikus keliling yang menggunakan motor lewat sambil ngomong lewat toa. Aku mengangkat bahu,tanda gak ngeh sama omongan Rangga. Rangga garuk-garuk palak, buat poninya berantakan.
“Aku besok…”
Seorang Polisi berdiri di depanku, “Dek,bahaya ngobrol di tengah jalan” tuh bapak berkata dengan suara yang ngebass, lalu nyeberangin aku ke halte.
“Be…sok…”Rangga menggerakkan bibirnya pelan. Aku membca gerak itu dengan seksama, aku dan Rangga kayak lagi main game show deh. Rangga melanjutkan, “kak…i…cha…nga…jak…ke…te…mu…an…di…resto…mu….da…mu…di…”
“jam?” Aku menunjuk jamku.
Rangga menunjukkan tujuh dari sepuluh jarinya. Aku tersenyum dan mengangguk. Bis yang kutunggu datang, aku lalu masuk, dan duduk. Membuka jendela dan melambaikan tangan kearah Rangga di seberang. Aku memandangnya sampai bayangan Rangga tak tampak di mataku. Aku duduk sambil tersenyum.
DRRT DRRT
Handphoneku bergetar. Ada sms
“Aduh,aku bodoh banget. Kenapa gak sms aja tadi,malah ngobrol kayak orang bego di tengah jalan =p”
Itulah bunyi sms Rangga. Eh, kok dia bisa tau nomor hapeku yah?
Besoknya setengah jam dari waktu janjian aku sudah dateng aja ke tempat yang dimaksdukan Rangga. Dengan baju seadanya (maklum lagi sibuk-sibuknya mondar mandir ke penerbitan) aku mulai melangkah masuk. Waktu masuk resto seorang pelayan menghampiriku dan bertanya, “Mbak Kinia yah?” Aku mengangguk, “Mari saya antarkan”
Aku diajak oleh si mbak ke ruangan gede yang kayaknya udah direserve. Waduh, pesta gede-gedean nih kak Icha. Sampe-sampe ngereserved tempat segala. Aku masuk dan nemuin seorang cowok duduk sendirian di meja yang kayaknya Cuma cukup buat dua orang. Aku lalu duduk di depan Rangga dan memandang ke sekeliling.
Sambil melepas tas selempang kesayanganku aku bertanya, “Kak Icha sama yang lain kemana?”
“Oh, mereka mendadak kena diare”
“hah! Kalo gitu ayo kita jenguk. Masa’ temen sakit kita enak-enakkan makan di sini.” Aku bangkit dari tempat duduk.
“Mereka udah sembuh kok. Cuma buat pemulihan, kata dokter mereka dilarang makan-makanan selain yang terbuat dari daun jambu biji’
“Apa!’ aku heran, “Berarti mereka jadi kambing dong seharian makan daun”
Rangga berdehem, “Sebenernya aku ada keperluan sama kamu Kin.”
“Perlu buat?”
“Aku mau nembak cewek. Dan aku butuh seorang sukarela buat nilai proses penembakan aku ntar.”
Aku tertunduk lemas, dan manyun, “Siapa cewek itu?” Tanyaku sambil melintir-melintir daun di vas.
“Mytha?” Aku menebak,Rangga tersenyum ,”ternyata gossip itu bener”
“Wah,kau tau juga soal gossip”
“Jelaslah aku ini kan Smashblast sejati.” Aku marah-marah.
Rangga berjalan ke sudut ruangan, dan mengambil gitar. Dia lalu memberikan gitar itu kepadaku. dia lalu memintaku untuk memetik gitar itu dan memainkan kunci-kunci di lagu gadisku dalam versi slow.
“Kenapa?” Tanyanya waktu ngeliat ekspresiku, “Kau gak mau? Nanti aku beliin es krim deh!”
Bukan masalah es krimnya, tapi masalahnya kau nembak seorang cewek dan aku jadi bahan percobaannya. Aku mainin gitar buat cewek yang sudah merebut cowok yang aku idam-idamkan. Aku mulai memetik gitar dengan wajah sedih dan Rangga mulai bernyanyi sambil mesem-mesem sendiri memandangku yang terus manyun kayak bebek. Setelah selesai bernyanyi, dia melihat handphonenya.
“Wah,dia sudah datang”
“Apa! Kau mau nembak dia sekarang, disini”Aku terbelalak. Mental aku gak siap. Rasanya aku mau pingsan di tempat.
“Iya”Jawab Rangga santai. “Itu dia” Rangga menunjuk seseorang di belakangku. Waktu aku mau menoleh, dia mencubit pipiku.
“Eits, gak boleh. Dia malu kalo kamu liatin” Ucap Rangga. Dia lalu menyuruhku berdiri. Kami lalu berjalan berhadapan. 7 langkah berjalan, kami berhenti. Dia menyuruhku memejamkan mata sebelum aku berbalik. lalu saat aku membuka mata aku menemukan bayanganku terpantul di sebuah cermin. Aku menghela napas panjang.
“Kau dan teman-temanmu sangat suka menggodaku yah” Aku berbalik dan mendapati Rangga sudah bersujud di depanku dengan setangkai mawar putih. aku berkacak pinggang melihatnya.
“Kinia,Ana Uhibbuka, aku galak samo kau, aku tresno karo koe, I Love You, aku cinta kamu. aku sudah suka kamu sejak kita pertama bertemu, aku sangat suka dengan semua yang ada padamu. Senyummu, caramu tertawa, sikap cerobohmu, saat kau marah dan ngambek, masakanmu, semuanya. Kin maukah kau menerima cintaku dan mawar ini sebagai tanda bahwa kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku.”
Aku memasukkan tanganku ke dalam kantong jaketku,”Apa kau tidak salah menyukai cewek kayak aku. Kau akan menyesal nanti” ucapku.
“Aku lebih akan sangat menyesal, kalo tidak mengungkapkan perasaanku dan tau isi hatimu Kin.”
Aku menundukkan  badan dan menggosok kepala rangga membuat poninya yang selalu rapi jadi berantakan.
“Seharusnya kau bilang dulu mau menembakku hari ini supaya aku bisa dandan yang lebih baik dari ini.”
Rangga menatapku bingung,”BODOH!” ledekku, “Bahkan kalo kau langsung bawa lari aku ke KUA aku enggak akan nolak” Ucapku sambil tersenyum dan mengambil bunga mawar dari tangannya. Rangga berdiri.
“Jadi?”
“Jadi apa?” Aku pura-pura bego. Rangga langsung memelukku,dan mencium keningku.
“you’re be the last forever honey” Bisik rangga. Aku mendekapnya erat.
Kalian tau, Dia selalu pengen ngajakin aku ngobrol tapi keduluan terus sama Bisma. Selama mereka keluar kota, Rangga jugalah yang paling suka cerita tentang aku sama personil lain. Dia yang nyuruh Rafael pura-pura minta buatin kue ke aku Cuma supaya bisa ngeliatin aku terus seharian. So sweet. Ternyata Rangga udah lama suka sama aku.
“Kin,sebenernya aku sudah lama tau kalo kamu suka sama aku” Gumam Rangga, yang aku tanggapi dengan wajah bingung.”Waktu kamu tidur di taxi itu loh, kamu ngigau “Rangga aku suka kamu.” begitu” Rangga menirukan gaya ngigauku. Aku mangap, dasar KINIA koplak!

THE END

5 komentar:

  1. ceritanya bagus deh, tp blm slesai sih bacanya.. salam knl ya aku firda :)

    BalasHapus
  2. wah,,,follower pertama nih! Ksh hadiah apa yah!!!
    Hehehe
    thx atas pujiannya
    rajin2 bc cerita d blog minim pembaca in yah
    =)

    BalasHapus
  3. makasih yah rachmath
    lam kenal

    wah,trims yah nano
    smoga gak sepi pembaca lagi
    \(^o^)/

    BalasHapus